Dana Darurat Pangan Disiapkan Rp 2 Triliun
Ilustrasi beras di gudang Bulog
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah sedianya telah menyiapkan dana ketika terjadi darurat pangan akibat bencana alam, atau sebab lain sebesar Rp 2 triliun.
Menko Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan selain menyiapkan dana darurat pangan, pemerintah juga menyediakan cadangan beras senilai Rp 2 triliun. "Kalau ada puso, bencana alam, dan gagal panen, bisa digunakan dana itu," kata Hatta di sela-sela inspeksi ke Pasar Induk Beras Cipinang, Rabu (22/1/2014).
Hatta mengakui akibat banjir di beberapa wilayah yang terjadi belakangan ini, distribusi pasokan beras menjadi tersendat. Akibatnya, harga bahan pangan utama ini terkerek naik Rp 100 - Rp 200 per kg di tingkat pasar induk.
Namun, ia memastikan tidak ada kekurangan pasokan, lantaran Perum Bulog diminta untuk siaga memasok tanpa menunggu pemerintah. Ia pun melihat kenaikan harga tersebut hanya bersifat sementara.
"Dibanding Januari tahun lalu, karena ada paceklik harga tinggi. Sekarang, tidak seberapa tinggi, lebih karena gangguan transportasi," sebut Hatta.
Sementara itu ditemui di lokasi sama, Kepala Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan, cadangan beras di Bulog hingga saat ini masih di atas 2 juta ton. Sepanjang Januari ini Bulog sudah melakukan operasi pasar untuk stabilisasi pasokan sebesar 4.800 ton.
Beras operasi pasar dari Bulog berjenis IR 3. Pedagang pasar induk mendapat beras tersebut dengan harga Rp 6.900 per kg, kemudian menjualnya lagi dengan harga Rp 7.100 per kg. Setiap tiga bulan, Bulog juga rutin memasok beras ke area terpencil (remote area).
"Yang kita salurkan untuk bencana alam, gratis, melalui Pemda sudah lebih dari 720 ton, seperti untuk Sinabung, dan banjir Jakarta," imbuh Alie.
Menko Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan selain menyiapkan dana darurat pangan, pemerintah juga menyediakan cadangan beras senilai Rp 2 triliun. "Kalau ada puso, bencana alam, dan gagal panen, bisa digunakan dana itu," kata Hatta di sela-sela inspeksi ke Pasar Induk Beras Cipinang, Rabu (22/1/2014).
Hatta mengakui akibat banjir di beberapa wilayah yang terjadi belakangan ini, distribusi pasokan beras menjadi tersendat. Akibatnya, harga bahan pangan utama ini terkerek naik Rp 100 - Rp 200 per kg di tingkat pasar induk.
Namun, ia memastikan tidak ada kekurangan pasokan, lantaran Perum Bulog diminta untuk siaga memasok tanpa menunggu pemerintah. Ia pun melihat kenaikan harga tersebut hanya bersifat sementara.
"Dibanding Januari tahun lalu, karena ada paceklik harga tinggi. Sekarang, tidak seberapa tinggi, lebih karena gangguan transportasi," sebut Hatta.
Sementara itu ditemui di lokasi sama, Kepala Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan, cadangan beras di Bulog hingga saat ini masih di atas 2 juta ton. Sepanjang Januari ini Bulog sudah melakukan operasi pasar untuk stabilisasi pasokan sebesar 4.800 ton.
Beras operasi pasar dari Bulog berjenis IR 3. Pedagang pasar induk mendapat beras tersebut dengan harga Rp 6.900 per kg, kemudian menjualnya lagi dengan harga Rp 7.100 per kg. Setiap tiga bulan, Bulog juga rutin memasok beras ke area terpencil (remote area).
"Yang kita salurkan untuk bencana alam, gratis, melalui Pemda sudah lebih dari 720 ton, seperti untuk Sinabung, dan banjir Jakarta," imbuh Alie.
Dirut BPJS Tegaskan Tak Mendapatkan Kenaikan Gaji
Warga Tasikmalaya sedang antre mendaftar kartu jaminan kesehatan melalui BPJS,Senin (6/1/2014).
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Elvyn Masassya mengklaim dirinya dan anggota direksi lainnya tidak mendapatkan kenaikan gaji dibandingkan saat masih menjabat sebagai direksi PT Jamsostek (Persero).
"Semua penggajian direksi sama persis dengan gaji ketika di Jamsostek. Tidak ada usulan apapun terkait gaji. Kami sekarang masih terima gaji seperti Jamsostek dulu. Loud and clear, sama persis," kata Elvyn di Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris pun mengatakan hal serupa dengan Elvyn. Ia dan direksi lainnya pun tidak menerima dan meminta kenaikan gaji.
"Kami sama persis. Malah lebih kecil. THR tadinya kan 2 bulan gaji, ini malah 1 bulan gaji. Lebih kecil kan. Kami menjalankan lah apa yang diarahkan pemerintah," ujar Fahmi.
Seperti diberitakan sebelumnya, gaji Direktur Utama BPJS diusulkan naik menjadi Rp 530 juta. Artinya naik 4,4 kali lipat dibandingkan gaji Direktur Utama Jamsostek yang sekitar Rp 120 juta.
Pemerintah sudah mengesahkan aturan mekanisme pemberian upah kepada anggota dewan pengawas dan anggota direksi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2013.
Elvyn membantah kabar bahwa gaji Direktur Utama BPSJ mencapai Rp 530 juta. Menurutnya gaji yang ia terima saat ini masih sama seperti ketika BPJS Ketenagakerjaan bernama PT Jamsostek.
"Semua penggajian direksi sama persis dengan gaji ketika di Jamsostek. Tidak ada usulan apapun terkait gaji. Kami sekarang masih terima gaji seperti Jamsostek dulu. Loud and clear, sama persis," kata Elvyn di Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris pun mengatakan hal serupa dengan Elvyn. Ia dan direksi lainnya pun tidak menerima dan meminta kenaikan gaji.
"Kami sama persis. Malah lebih kecil. THR tadinya kan 2 bulan gaji, ini malah 1 bulan gaji. Lebih kecil kan. Kami menjalankan lah apa yang diarahkan pemerintah," ujar Fahmi.
Seperti diberitakan sebelumnya, gaji Direktur Utama BPJS diusulkan naik menjadi Rp 530 juta. Artinya naik 4,4 kali lipat dibandingkan gaji Direktur Utama Jamsostek yang sekitar Rp 120 juta.
Pemerintah sudah mengesahkan aturan mekanisme pemberian upah kepada anggota dewan pengawas dan anggota direksi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2013.
Elvyn membantah kabar bahwa gaji Direktur Utama BPSJ mencapai Rp 530 juta. Menurutnya gaji yang ia terima saat ini masih sama seperti ketika BPJS Ketenagakerjaan bernama PT Jamsostek.
Bosowa Bangun Terminal LPG di Jawa Timur 787 Juta Dollar AS
Erwin Aksa
JAKARTA, KOMPAS.com - Grup Bosowa memulai membangun terminal LPG Pressurized di Banyuwangi, Jawa Timur, hari ini Rabu (22/01/2014). Perusahaan milik Keluarga Aksa itu menginvestasikan dana hingga Rp 787 miliar.
CEO Bosowa Erwin Aksa mengatakan, proyek tersebut menelan investasi sebesar Rp 787 miliar, mendapat sumber pendanaan dari PT Bank Mega Tbk. Nantinya, proyek ini dimiliki dan dikelola anak usaha Bosowa yakni PT Misi Mulia Petronusa.
Pihaknya berharap proyek ini akan selesai pembangunannya 2 tahun mendatang.”Insyaallah akan selesai dalam 22 bulan,” tutur Erwin.
Proyek yang dibangun itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 9 hektar di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebelumnya di lokasi yang sama, perseroan juga sedang mengerjakan pembangunan pabrik Semen Bosowa Banyuwangi.
Erwin optimistis terhadap prospek bisnis ini, sebab fasilitas yang dibangun itu telah mendapatkan kontrak dari PT Pertamina (Persero). Bersamaan dengan itu, terminal LPG juga akan dilengkapi dengan fasilitas jetty berkapasitas 6.500 dwt, 4 tangki LPG yang masing-masing berkapasitas 2.500 mt, 6 unit filling sheds, ruang kontrol, dan fasilitas lainnya.
“Diharapkan kehadiran Terminal Gas dan Semen Bosowa nantinya dapat mendorong ekonomi lokal bahkan Jawa Timur dan Bali,” ucap Erwin.
Terminal yang dibangun ini nantinya mampu menampung sebesar 10.000 mt LPG untuk kemudian didistribusikan ke Jawa Timur dan Bali.
Sebelumnya, Bosowa juga telah meresmikan beroperasinya Terminal LPG melalui anak usahanya PT Bosowa Duta Energasindo dengan kapasitas 10.000 metrik ton, di Makassar, Sulawesi Selatan, senilai 70 juta dollar AS. Terminal tersebut memperluas jalur distribusi LPG PT Pertamina di kawasan timur Indonesia.
CEO Bosowa Erwin Aksa mengatakan, proyek tersebut menelan investasi sebesar Rp 787 miliar, mendapat sumber pendanaan dari PT Bank Mega Tbk. Nantinya, proyek ini dimiliki dan dikelola anak usaha Bosowa yakni PT Misi Mulia Petronusa.
Pihaknya berharap proyek ini akan selesai pembangunannya 2 tahun mendatang.”Insyaallah akan selesai dalam 22 bulan,” tutur Erwin.
Proyek yang dibangun itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 9 hektar di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebelumnya di lokasi yang sama, perseroan juga sedang mengerjakan pembangunan pabrik Semen Bosowa Banyuwangi.
Erwin optimistis terhadap prospek bisnis ini, sebab fasilitas yang dibangun itu telah mendapatkan kontrak dari PT Pertamina (Persero). Bersamaan dengan itu, terminal LPG juga akan dilengkapi dengan fasilitas jetty berkapasitas 6.500 dwt, 4 tangki LPG yang masing-masing berkapasitas 2.500 mt, 6 unit filling sheds, ruang kontrol, dan fasilitas lainnya.
“Diharapkan kehadiran Terminal Gas dan Semen Bosowa nantinya dapat mendorong ekonomi lokal bahkan Jawa Timur dan Bali,” ucap Erwin.
Terminal yang dibangun ini nantinya mampu menampung sebesar 10.000 mt LPG untuk kemudian didistribusikan ke Jawa Timur dan Bali.
Sebelumnya, Bosowa juga telah meresmikan beroperasinya Terminal LPG melalui anak usahanya PT Bosowa Duta Energasindo dengan kapasitas 10.000 metrik ton, di Makassar, Sulawesi Selatan, senilai 70 juta dollar AS. Terminal tersebut memperluas jalur distribusi LPG PT Pertamina di kawasan timur Indonesia.
Pemerintah Sediakan Lahan dan Modal untuk Pengungsi Sinabung
Seorang warga melintas di areal pertanian warga yang rusak akibat debu vulkanik erupsi Gunung Sinabung di Desa Suka Nalu, Karo, Sumut, Kamis (16/1/2014). Aktivitas Gunung Sinabung terus meningkat ditandai dengan munculnya lava pijar dan luncuran awan panas. TRIBUN MEDAN/DEDY SINUHAJI
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyediakan setidaknya 8.000 hektar lahan bagi para korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Selain itu, bagi korban yang kesulitan lantaran lahan pertaniannya hancur, pemerintah juga menyediakan bibit dan pupuk.
Dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang digelar di Gudang Bulog Divre Jakarta, Rabu (22/1/2014), Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyediakan 8.000 hektar lahan untuk relokasi.
"Kemenhut tadi melaporkan apabila BNPB berdasarkan rekomendasi Kementerian ESDM, menetapkan merelokasi 921 KK yang ada di Sinabung, utamanya yang di radius 3 km, maka Kemenhut punya lahan 8000 hektar," kata Hatta.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, mengatakan, pada jarak 3 km hingga 10 km dari lereng Sinabung, terdapat banyak kawasan yang bisa digunakan. Akan tetapi jika kawasan tersebut milik perorangan, praktis pemerintah harus membebaskan lahan.
"Kalau tidak, di kawasan hutan juga ada, sekitar 21 km dari Sinabung, di bawah Kabanjahe 6 km. Itu hutan produksi ada 8.000 hektar. Bisa digunakan kalau diperlukan untuk penampungan sementara atau tetap pengungi Sinabung," jelas Zulkifli.
Selain menyediakan lahan relokasi, Hatta menambahkan, pemerintah juga membahas penanganan pasca-bencana erupsi. Pemerintah, kata Hatta, akan menyediakan bibit dan pupuk utamanya untuk komoditas hortikultura yang banyak ditanam di lereng Sinabung.
"Kami memikirkan pasca bencana terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan karena lahan pertanian dan usahanya kesulitan. Pemerontah antisipasi memberikan solusi berupa pinjaman, bibit, dan benih," jelas Hatta.
Dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang digelar di Gudang Bulog Divre Jakarta, Rabu (22/1/2014), Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyediakan 8.000 hektar lahan untuk relokasi.
"Kemenhut tadi melaporkan apabila BNPB berdasarkan rekomendasi Kementerian ESDM, menetapkan merelokasi 921 KK yang ada di Sinabung, utamanya yang di radius 3 km, maka Kemenhut punya lahan 8000 hektar," kata Hatta.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, mengatakan, pada jarak 3 km hingga 10 km dari lereng Sinabung, terdapat banyak kawasan yang bisa digunakan. Akan tetapi jika kawasan tersebut milik perorangan, praktis pemerintah harus membebaskan lahan.
"Kalau tidak, di kawasan hutan juga ada, sekitar 21 km dari Sinabung, di bawah Kabanjahe 6 km. Itu hutan produksi ada 8.000 hektar. Bisa digunakan kalau diperlukan untuk penampungan sementara atau tetap pengungi Sinabung," jelas Zulkifli.
Selain menyediakan lahan relokasi, Hatta menambahkan, pemerintah juga membahas penanganan pasca-bencana erupsi. Pemerintah, kata Hatta, akan menyediakan bibit dan pupuk utamanya untuk komoditas hortikultura yang banyak ditanam di lereng Sinabung.
"Kami memikirkan pasca bencana terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan karena lahan pertanian dan usahanya kesulitan. Pemerontah antisipasi memberikan solusi berupa pinjaman, bibit, dan benih," jelas Hatta.
Tanri Abeng, Jual Hotel Demi Universitas
Tanri Abeng
JAKARTA, KOMPAS.com - Hidup susah dan berada di dalam keluarga yang buta huruf tak membuat Tanri Abeng ciut. Ia tumbuh menjadi salah satu orang yang besar di Indonesia. Demi balas budi pada bangsa, Tanri akhirnya membalas budi pada Negara melalui sekolah yang ia dirikan.
Karir Tanri Abeng dalam pemerintahan mencapai puncaknya ketika menduduki pos sebagai Menteri Pendayagunaan BUMN di era pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1998. Posisi itu kembali dipegangnya manakala pemerintahaan Presiden BJ. Habibie.
Di perusahaan swasta, pria kelahiran Selayar, Sulawesi Selatan pada 7 Maret 1942 ini terbilang cemerlang, hingga ia dijuluki sebagai ‘Manajer Rp1 Miliar’ lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu manakala memimpin kelompok usaha Bakrie. Sebelumnya ia juga sempat berkiprah di perusahaan multinasional, seperti perusahaan Amerika Serikat dan Eropa.
Karir cemerlang di perusahaan swasta dan pemerintahan itulah yang membuatnya merasa punya ‘hutang’ besar terhadap negeri ini. Mimpinya, ia ingin anak-anak Indonesia punya pendidikan yang memadai untuk menghadapi tingkat persaingan yang tinggi di masa depan nanti.
Tahun 2011, sebagai titik awal dibangunnya TANRI ABENG UNIVERSITY (TAU). Kampus yang berdiri di daerah Srengseng, Jakarta Barat itu terdiri dari beberapa gedung. Memasuki gedung pertama, dominasi ornamen unik di ruangan menghiasi gedung yang penuh dengan kaca ini.
Tepat di sebelahnya, berdiri gedung tempat perkuliahan para mahasiswa. Memasuki gedung ini, kita bisa melihat perpustakaan yang modern. Selain buku-buku yang tertata rapi di raknya serta papan catur untuk olahraga otak, di sana juga tersedia iPad yang bisa digunakan para mahasiswa untuk mengakses informasi.
Tak hanya itu, perpustakaan ini menjadi menarik karena dikondisikan sedemikian rupa agar menjadi ruangan yang sangat nyaman bagi siapapun yang memasukinya, entah untuk sekadar mencari referensi buku, berdiskusi atau membaca buku.
Hal ini tergambar jelas ketika tampak mahasiswa yang berada di ruangan ini terlihat nyaman melakukan apa saja yang mereka mau namun tetap tertib.
Iqbal Fahreza salah satu dari 9 mahasiswa, tampak tekun mencari informasi di perpustakaan itu. Mahasiswa tingkat empat dari Bengkulu ini ternyata merupakan mahasiswa paling cemerlang di angkatannya. Bagaimana tidak, ia mampu memperoleh IPK 4.0 di kampus yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib untuk berkomunikasi baik dalam perkuliahan maupun dalam kegiatan sehari-hari.
Iqbal ingat, tawaran beasiswa penuh berhasil membuatnya tertarik memasukidan mendaftar di kampus ini. Selain itu, nama besar sang ‘Manajer Rp1 Miliar’ juga membuatnya makin tertarik. Iqbal mengakui bahwa sistem tiga semester dalam setahun juga membuatnya tertarik.
“Dengan begini saya bisa lulus dan mendapatkan gelar sarjana lebih cepat,” akunya. Iqbal memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pebisnis handal ketika sudah lulus menuntut ilmu di TAU.
Dibangunnya institusi pendidikan ini, Tanri mengaku tak melulu mengejar bisnis. “Semuanya dimulai dari latar saya. Saya adalah anak dari sebuah desa (Selayar, Sulawesi Selatan) yang menjadi satu-satunya anak yang pergi ke sekolah, bahkan seluruh keluarga saya buta huruf,” ingatnya.
Tanri melanjutkan, dalam perjalanannya, ternyata ia mampu melampaui semua proses pendidikan yang harus ia tempuh dengan baik dan bisa berkiprah di berbagai posisi penting di perusahaan swasta hingga pemerintahan.
“Saya pun bertanya pada diri saya sendiri, apa yang bisa saya berikan pada bangsa ini?” ujarnya.
Membangun sekolah, Tanri bilang, menjadi tanda terima kasih dan syukurnya atas apa yang telah ia peroleh dari Yang Maha Kuasa yang telah membawanya di titik saat ini.
Kata Tanri, ketidakmampuannya memberikan uang pada pemerintah selain dari membayar pajak, mendasarinya membangun institusi pendidikan berupa universitas.
“Bangsa ini butuh pendidikan, tak ada negara makmur jika pendidikannya tidak mencapai tingkat di mana pendidikan harus dikuasai,” ujarnya. Bagi Tanri, pendidikan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi seluruh bangsa, khususnya Indonesia.
Ia berharap, pendidikan bisa menjadi warisan darinya hingga 100 tahun atau bahkan 1.000 tahun nanti. Tanri ingat, pendanaan untuk membangun kampus ini ia peroleh dari hasil menjual hotel Hotel Aryaduta yang ia miliki dari hasil bermitra dengan James Riady (bosLippo Group) pada 1995 di Makassar.
Selain dari penjualan hotel, sumber dana lainnya berasal dari hasil tabungan pribadi Tanri selama 40 tahun bekerja sebagai eksekutif di luar negeri.
“Kira-kira 5 tahun lalu hotel ini jual. Dari hasil penjualan hotel ini awalnya saya ingin membangun hotel lagi, namun kemudian hasrat dan keinginan saya ternyata ingin mendirikan universitas. Maka saya putuskan mengalihkan dana untuk membangun universitas dan saya tambahkan hasil tabungan pribadi saya. Dengan modal ini saja ternyata saya masih punya hutang,” ungkapnya.
Modal awal yang dikeluarkan untuk pembangunan kampus menelan biaya lebih dari Rp100 miliar, ungkap Tanri.
Tanri bilang, membangun hotel dan universitas memang berbeda, jika membangun hotel, 30 persen modal berasal dari uang pribadi dan sisanya bisa berhutang sedangkan untuk membangun universitas, skema ini terbalik. “70 persen dari total biaya membangun universitas harus saya penuhi sendiri,” katanya.
Tanri mengaku, dengan membangun universitas ini, mimpinya untuk balas budi pada bangsa bisa terealisasi. Melalui kampus ini, Tanri ingin mencetak profesional yang siap berkarir. Ke depannya, Tanri ingin membangun pusat-pusat pendidikan di Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Sulawesi, Maluku, dan Sumatera.
Untuk memastikan mahasiswa yang lulus dari TAU memiliki kualitas, Tanri memilih dan menunjuk dosen-dosen pengajarnya secara pribadi bersama timnya. “Prinsip ini merupakan prinsip yang selalu saya pegang selama berkarir, yaitu memilih sendiri dan menempatkan orang-orang yang tepat,” katanya.
Dosen-dosen di kampus ini betul-betul dipilih sesuai kinerjanya, kata Tanri. Ia memang memiliki tim penyeleksian dosen, namun penilaian bukan hanya dari tim ini saja, karena selama prosesnya, akan ada ada tes untuk pengajaran dan evaluasi dari mahasiswa.
“Hal ini yang membuat saya mau mendatangkan enam dosen Internasional untuk melatih dosen-dosen di TAU agar mereka benar-benar menguasai materi ajar serta mampu menyampaikannya dengan baik pada mahasiswa,” ungkapnya.
Ini merupakan salah satu prinsip Tanri selama menjadi profesional yang tetap dibawa dalam memimpin TAU.
Strategi lain yang dilakukanTanri agar institusi pendidikannya tetap bisa beroperasi dan tidak rugi adalah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk pembuatan pusat pendidikan di daerah-daerah.
“Pusat-pusat pendidikan yang nantinya tersebar di daerah-daerah inilah yang nantinya akan menjadi pendukung arus kas TAU. Saya perkirakan sekitar tiga tahun lagi kita sudah mampu balik modal ataubahkansurplus. Tahun pertama dan kedua hanya untukinvestasi,” ungkapnya.
Kerjasama dengan Pemda ini rencananya akan dimulai pada Juni tahun ini dan saat itu, akan ada 10 pusat pendidikan aktif. Kesepuluh daerah ini adalah kawasan Timur misalnya seperti ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Medan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimantan. Di TAU, biaya per semester mencapai Rp12 juta.
Namun, kata Tanri, biaya pendidikan ini tergantung dari latar keluarga calon mahasiswa. “Kita bisa memberikan diskon jika calon mahasiswa ternyata berasal dari keluarga tidak mampu dan memberikan beasiswa,” paparnya.
Selain itu, untuk bisa lulus, 8 semester di TAU bisa ditempuh hanya dalam 3 tahun. Tanri bilang, dalam 10 tahun mendatang, ia ingin kampus ini sudah ada peningkatan investasi daripada fasilitas, kemudian pengembangan kompetensi dan jumlah dosen serta alumni yang sudah bisa membawa nama almamater.
Andi Ilham Said, pengamat dari PPM School of Management, menilai apa yang dilakukan Tanri merupakan upaya untuk menunjukkan eksistensi.
“Tanri tampaknya ingin memberikan warisan pada bangsa ini sekaligus memperpanjang namanya dengan memberikan kontribusinya pada dunia pendidikan dalam wujud sekolah,” ujarnya.
Ia melanjutkan, sekolah yang dibangun Tanri masih butuh 2-3 siklus lagi hingga tampak kualitas lulusannya. “Setelah itu, masyarakat bisa mengetahui apakah sekolah ini memang bagus atau hanya menjual nama saja,” katanya. (BillyA. Banggawan)
Karir Tanri Abeng dalam pemerintahan mencapai puncaknya ketika menduduki pos sebagai Menteri Pendayagunaan BUMN di era pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1998. Posisi itu kembali dipegangnya manakala pemerintahaan Presiden BJ. Habibie.
Di perusahaan swasta, pria kelahiran Selayar, Sulawesi Selatan pada 7 Maret 1942 ini terbilang cemerlang, hingga ia dijuluki sebagai ‘Manajer Rp1 Miliar’ lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu manakala memimpin kelompok usaha Bakrie. Sebelumnya ia juga sempat berkiprah di perusahaan multinasional, seperti perusahaan Amerika Serikat dan Eropa.
Karir cemerlang di perusahaan swasta dan pemerintahan itulah yang membuatnya merasa punya ‘hutang’ besar terhadap negeri ini. Mimpinya, ia ingin anak-anak Indonesia punya pendidikan yang memadai untuk menghadapi tingkat persaingan yang tinggi di masa depan nanti.
Tahun 2011, sebagai titik awal dibangunnya TANRI ABENG UNIVERSITY (TAU). Kampus yang berdiri di daerah Srengseng, Jakarta Barat itu terdiri dari beberapa gedung. Memasuki gedung pertama, dominasi ornamen unik di ruangan menghiasi gedung yang penuh dengan kaca ini.
Tepat di sebelahnya, berdiri gedung tempat perkuliahan para mahasiswa. Memasuki gedung ini, kita bisa melihat perpustakaan yang modern. Selain buku-buku yang tertata rapi di raknya serta papan catur untuk olahraga otak, di sana juga tersedia iPad yang bisa digunakan para mahasiswa untuk mengakses informasi.
Tak hanya itu, perpustakaan ini menjadi menarik karena dikondisikan sedemikian rupa agar menjadi ruangan yang sangat nyaman bagi siapapun yang memasukinya, entah untuk sekadar mencari referensi buku, berdiskusi atau membaca buku.
Hal ini tergambar jelas ketika tampak mahasiswa yang berada di ruangan ini terlihat nyaman melakukan apa saja yang mereka mau namun tetap tertib.
Iqbal Fahreza salah satu dari 9 mahasiswa, tampak tekun mencari informasi di perpustakaan itu. Mahasiswa tingkat empat dari Bengkulu ini ternyata merupakan mahasiswa paling cemerlang di angkatannya. Bagaimana tidak, ia mampu memperoleh IPK 4.0 di kampus yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib untuk berkomunikasi baik dalam perkuliahan maupun dalam kegiatan sehari-hari.
Iqbal ingat, tawaran beasiswa penuh berhasil membuatnya tertarik memasukidan mendaftar di kampus ini. Selain itu, nama besar sang ‘Manajer Rp1 Miliar’ juga membuatnya makin tertarik. Iqbal mengakui bahwa sistem tiga semester dalam setahun juga membuatnya tertarik.
“Dengan begini saya bisa lulus dan mendapatkan gelar sarjana lebih cepat,” akunya. Iqbal memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pebisnis handal ketika sudah lulus menuntut ilmu di TAU.
Dibangunnya institusi pendidikan ini, Tanri mengaku tak melulu mengejar bisnis. “Semuanya dimulai dari latar saya. Saya adalah anak dari sebuah desa (Selayar, Sulawesi Selatan) yang menjadi satu-satunya anak yang pergi ke sekolah, bahkan seluruh keluarga saya buta huruf,” ingatnya.
Tanri melanjutkan, dalam perjalanannya, ternyata ia mampu melampaui semua proses pendidikan yang harus ia tempuh dengan baik dan bisa berkiprah di berbagai posisi penting di perusahaan swasta hingga pemerintahan.
“Saya pun bertanya pada diri saya sendiri, apa yang bisa saya berikan pada bangsa ini?” ujarnya.
Membangun sekolah, Tanri bilang, menjadi tanda terima kasih dan syukurnya atas apa yang telah ia peroleh dari Yang Maha Kuasa yang telah membawanya di titik saat ini.
Kata Tanri, ketidakmampuannya memberikan uang pada pemerintah selain dari membayar pajak, mendasarinya membangun institusi pendidikan berupa universitas.
“Bangsa ini butuh pendidikan, tak ada negara makmur jika pendidikannya tidak mencapai tingkat di mana pendidikan harus dikuasai,” ujarnya. Bagi Tanri, pendidikan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi seluruh bangsa, khususnya Indonesia.
Ia berharap, pendidikan bisa menjadi warisan darinya hingga 100 tahun atau bahkan 1.000 tahun nanti. Tanri ingat, pendanaan untuk membangun kampus ini ia peroleh dari hasil menjual hotel Hotel Aryaduta yang ia miliki dari hasil bermitra dengan James Riady (bosLippo Group) pada 1995 di Makassar.
Selain dari penjualan hotel, sumber dana lainnya berasal dari hasil tabungan pribadi Tanri selama 40 tahun bekerja sebagai eksekutif di luar negeri.
“Kira-kira 5 tahun lalu hotel ini jual. Dari hasil penjualan hotel ini awalnya saya ingin membangun hotel lagi, namun kemudian hasrat dan keinginan saya ternyata ingin mendirikan universitas. Maka saya putuskan mengalihkan dana untuk membangun universitas dan saya tambahkan hasil tabungan pribadi saya. Dengan modal ini saja ternyata saya masih punya hutang,” ungkapnya.
Modal awal yang dikeluarkan untuk pembangunan kampus menelan biaya lebih dari Rp100 miliar, ungkap Tanri.
Tanri bilang, membangun hotel dan universitas memang berbeda, jika membangun hotel, 30 persen modal berasal dari uang pribadi dan sisanya bisa berhutang sedangkan untuk membangun universitas, skema ini terbalik. “70 persen dari total biaya membangun universitas harus saya penuhi sendiri,” katanya.
Tanri mengaku, dengan membangun universitas ini, mimpinya untuk balas budi pada bangsa bisa terealisasi. Melalui kampus ini, Tanri ingin mencetak profesional yang siap berkarir. Ke depannya, Tanri ingin membangun pusat-pusat pendidikan di Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Sulawesi, Maluku, dan Sumatera.
Untuk memastikan mahasiswa yang lulus dari TAU memiliki kualitas, Tanri memilih dan menunjuk dosen-dosen pengajarnya secara pribadi bersama timnya. “Prinsip ini merupakan prinsip yang selalu saya pegang selama berkarir, yaitu memilih sendiri dan menempatkan orang-orang yang tepat,” katanya.
Dosen-dosen di kampus ini betul-betul dipilih sesuai kinerjanya, kata Tanri. Ia memang memiliki tim penyeleksian dosen, namun penilaian bukan hanya dari tim ini saja, karena selama prosesnya, akan ada ada tes untuk pengajaran dan evaluasi dari mahasiswa.
“Hal ini yang membuat saya mau mendatangkan enam dosen Internasional untuk melatih dosen-dosen di TAU agar mereka benar-benar menguasai materi ajar serta mampu menyampaikannya dengan baik pada mahasiswa,” ungkapnya.
Ini merupakan salah satu prinsip Tanri selama menjadi profesional yang tetap dibawa dalam memimpin TAU.
Strategi lain yang dilakukanTanri agar institusi pendidikannya tetap bisa beroperasi dan tidak rugi adalah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk pembuatan pusat pendidikan di daerah-daerah.
“Pusat-pusat pendidikan yang nantinya tersebar di daerah-daerah inilah yang nantinya akan menjadi pendukung arus kas TAU. Saya perkirakan sekitar tiga tahun lagi kita sudah mampu balik modal ataubahkansurplus. Tahun pertama dan kedua hanya untukinvestasi,” ungkapnya.
Kerjasama dengan Pemda ini rencananya akan dimulai pada Juni tahun ini dan saat itu, akan ada 10 pusat pendidikan aktif. Kesepuluh daerah ini adalah kawasan Timur misalnya seperti ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Medan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimantan. Di TAU, biaya per semester mencapai Rp12 juta.
Namun, kata Tanri, biaya pendidikan ini tergantung dari latar keluarga calon mahasiswa. “Kita bisa memberikan diskon jika calon mahasiswa ternyata berasal dari keluarga tidak mampu dan memberikan beasiswa,” paparnya.
Selain itu, untuk bisa lulus, 8 semester di TAU bisa ditempuh hanya dalam 3 tahun. Tanri bilang, dalam 10 tahun mendatang, ia ingin kampus ini sudah ada peningkatan investasi daripada fasilitas, kemudian pengembangan kompetensi dan jumlah dosen serta alumni yang sudah bisa membawa nama almamater.
Andi Ilham Said, pengamat dari PPM School of Management, menilai apa yang dilakukan Tanri merupakan upaya untuk menunjukkan eksistensi.
“Tanri tampaknya ingin memberikan warisan pada bangsa ini sekaligus memperpanjang namanya dengan memberikan kontribusinya pada dunia pendidikan dalam wujud sekolah,” ujarnya.
Ia melanjutkan, sekolah yang dibangun Tanri masih butuh 2-3 siklus lagi hingga tampak kualitas lulusannya. “Setelah itu, masyarakat bisa mengetahui apakah sekolah ini memang bagus atau hanya menjual nama saja,” katanya. (BillyA. Banggawan)
BI: Utang Luar Negeri Indonesia Masih Aman
Gedung Bank Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memandang utang luar negeri Indonesia yang tercatat hingga posisi November 2013 masih berada dalam level aman jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang tergolong sebagai peer group Indonesia.
"(Utang luar negeri) kita masih dalam tren yang sangat aman. Tidak seperti Jepang misalnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowaty di Kantor Pusat BI, Rabu (22/1/2014).
Berdasarkan data BI, rasio utang luar negeri Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2013 sebesar 29,2 persen. BI memandang posisi ini masih jauh di bawah batas aman internasional yang mencapai 50 persen.
"Rasio pembayaran utang Indonesia pada kuartal III 2013 tercatat sebesar 39,1 persen. Ini turun dari kuartal sebelumnya sejalan dengan siklus pembayaran utang luar negeri," ujar Hendy. Hendy mengatakan saat ini utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang.
"Sekarang masih dominan jangka panjang. Jangka panjang lebih bagus, karena cicilan dan bunga lebih rendah. Utang jangka panjang ini biasanya untuk pemerintah," jelasnya.
Seperti diberitakan, BI mencatat tren perlambatan pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia masih berlanjut pada November 2013. Posisi ULN Indonesia pada November 2013 tercatat sebesar 260,3 miliar dollar AS atau 29,2 persen dari PDB.
Berdasarkan jangka waktu, perlambatan pertumbuhan ULN terjadi baik pada ULN jangka panjang maupun pendek. ULN jangka panjang sektor publik mencapai 116,6 miliar dollar AS atau 94,6 persen dari total ULN sektor publik, sementara ULN berjangka panjang sektor swasta sebesar 97,8 miliar dollar AS atau sebesar 71,4 persen dari total ULN swasta.
"(Utang luar negeri) kita masih dalam tren yang sangat aman. Tidak seperti Jepang misalnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowaty di Kantor Pusat BI, Rabu (22/1/2014).
Berdasarkan data BI, rasio utang luar negeri Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2013 sebesar 29,2 persen. BI memandang posisi ini masih jauh di bawah batas aman internasional yang mencapai 50 persen.
"Rasio pembayaran utang Indonesia pada kuartal III 2013 tercatat sebesar 39,1 persen. Ini turun dari kuartal sebelumnya sejalan dengan siklus pembayaran utang luar negeri," ujar Hendy. Hendy mengatakan saat ini utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang.
"Sekarang masih dominan jangka panjang. Jangka panjang lebih bagus, karena cicilan dan bunga lebih rendah. Utang jangka panjang ini biasanya untuk pemerintah," jelasnya.
Seperti diberitakan, BI mencatat tren perlambatan pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia masih berlanjut pada November 2013. Posisi ULN Indonesia pada November 2013 tercatat sebesar 260,3 miliar dollar AS atau 29,2 persen dari PDB.
Berdasarkan jangka waktu, perlambatan pertumbuhan ULN terjadi baik pada ULN jangka panjang maupun pendek. ULN jangka panjang sektor publik mencapai 116,6 miliar dollar AS atau 94,6 persen dari total ULN sektor publik, sementara ULN berjangka panjang sektor swasta sebesar 97,8 miliar dollar AS atau sebesar 71,4 persen dari total ULN swasta.
Wamenkeu Optimistis Investasi Stabil di 2014
Wamenkeu Bambang PS Brodjonegoro
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro optimistis pertumbuhan investasi di 2014 bisa stabil.
"Meskipun ada sedikit wait and see dari asing, tapi peranan dalam negeri mulai besar," kata Bambang di Gedung BPK, di Jakarta, Rabu (22/1/2014). Bambang pun mengaku tak terlalu risau jika ada penurunan impor, asalkan barang yang diimpor adalah barang konsumsi.
Ia tidak melihat investasi asing yang berkurang akan linear dengan penurunan impor barang modal. Namun demikian, ia mengatakan impor barang modal pun harus tetap dikendalikan.
Sebagai catatan, realisasi investasi sepanjang 2013 yang tercatat di Badan Koordinasi Penanaman Modal sebesar Rp 398,6 triliun. Realisasi investasi naik 27,3 persen dibanding tahun 2012. Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 270,4 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 128,2 triliun.
Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, dalam Indonesia Investor Forum 3, Selasa (21/1/2014) melihat pertumbuhan ekonomi 2014 masih menjanjikan. Tahun politik diharapkan tidak mempengaruhi pelaku usaha berinvestasi, seiring masyarakat yang semakin dewasa dalam demokrasi.
Ia pun meminta pelaku usaha untuk tidak wait and see, karena pada 2015 nanti, Indonesia akan memasuki tahun daya saing. Indonesia harus bisa menjadi production base di tengah pertarungan pasar bebas ASEAN.
"Meskipun ada sedikit wait and see dari asing, tapi peranan dalam negeri mulai besar," kata Bambang di Gedung BPK, di Jakarta, Rabu (22/1/2014). Bambang pun mengaku tak terlalu risau jika ada penurunan impor, asalkan barang yang diimpor adalah barang konsumsi.
Ia tidak melihat investasi asing yang berkurang akan linear dengan penurunan impor barang modal. Namun demikian, ia mengatakan impor barang modal pun harus tetap dikendalikan.
Sebagai catatan, realisasi investasi sepanjang 2013 yang tercatat di Badan Koordinasi Penanaman Modal sebesar Rp 398,6 triliun. Realisasi investasi naik 27,3 persen dibanding tahun 2012. Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 270,4 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 128,2 triliun.
Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, dalam Indonesia Investor Forum 3, Selasa (21/1/2014) melihat pertumbuhan ekonomi 2014 masih menjanjikan. Tahun politik diharapkan tidak mempengaruhi pelaku usaha berinvestasi, seiring masyarakat yang semakin dewasa dalam demokrasi.
Ia pun meminta pelaku usaha untuk tidak wait and see, karena pada 2015 nanti, Indonesia akan memasuki tahun daya saing. Indonesia harus bisa menjadi production base di tengah pertarungan pasar bebas ASEAN.
Laba Bersih BRI Tembus Rp 21 Triliun Sepanjang 2013
Gerai Bank Rakyat Indonesia di arena pameran di Jakarta, Rabu (31/10/2012).
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meraup laba bersih sebesar Rp 201,16 triliun sepanjang tahun 2013.
Dalam keterangan resminya Rabu (22/1/2014), laba bersih tersebut meningkat sebesar 14,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Perolehan laba bersih bersumber dari pendapatan operasional yang tercatat sebesar Rp 65,4 triliun atau tumbuh 16,2 persen selama tahun 2013.
Pendapatan operasional itu terdiri dari pendapatan bunga Rp 57,3 triliun dan pendapatan non bunga Rp 8,1 triliun. Perseroan menyatakan kinerja yang dicapai tersebut lantaran terus memperkuat bisnis pada segmen UMKM, serta pengembangan e-banking, termasuk produk dan layanan berbasis IT lainnya yang menghasilkan Fee Based Income.
Sementara itu, kredit yang berhasil disalurkan BRI hingga akhir tahun lalu mencapai 23,7 persen secara year on year, dari Rp 348,23 triliun pada Desember 2012 lalu menjadi Rp 430,62 triliun pada akhir tahun 2013.
Adapun, rasio kredit bermasalah (NPL) per Desember 2013 sebesar 0,31 persen (nett), menurun dari posisi di akhir Desember 2012 yang tercatat sebesar 0,34 persen (nett). Perseroan mengklaim rasio tersebut terendah dalam 8 tahun terakhir.
"Bisnis mikro BRI juga terus memperlihatkan momentum pertumbuhan yang menggembirakan. Dalam hal ini, kredit mikro BRI dalam periode yang sama tumbuh sebesar 23,7 persen yoy, atau naik dari Rp 106,8 triliun pada Desember 2012 menjadi Rp 132,1 triliun pada Desember 2013," tulis perseroan.
Dari sisi pendanaan, BRI juga berhasil menumbuhkan dana pihak ketiga. Per akhir tahun 2013 total DPK BRI mencapai Rp 486,4 triliun atau tumbuh 11,5 persen year on year.
Dalam keterangan resminya Rabu (22/1/2014), laba bersih tersebut meningkat sebesar 14,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Perolehan laba bersih bersumber dari pendapatan operasional yang tercatat sebesar Rp 65,4 triliun atau tumbuh 16,2 persen selama tahun 2013.
Pendapatan operasional itu terdiri dari pendapatan bunga Rp 57,3 triliun dan pendapatan non bunga Rp 8,1 triliun. Perseroan menyatakan kinerja yang dicapai tersebut lantaran terus memperkuat bisnis pada segmen UMKM, serta pengembangan e-banking, termasuk produk dan layanan berbasis IT lainnya yang menghasilkan Fee Based Income.
Sementara itu, kredit yang berhasil disalurkan BRI hingga akhir tahun lalu mencapai 23,7 persen secara year on year, dari Rp 348,23 triliun pada Desember 2012 lalu menjadi Rp 430,62 triliun pada akhir tahun 2013.
Adapun, rasio kredit bermasalah (NPL) per Desember 2013 sebesar 0,31 persen (nett), menurun dari posisi di akhir Desember 2012 yang tercatat sebesar 0,34 persen (nett). Perseroan mengklaim rasio tersebut terendah dalam 8 tahun terakhir.
"Bisnis mikro BRI juga terus memperlihatkan momentum pertumbuhan yang menggembirakan. Dalam hal ini, kredit mikro BRI dalam periode yang sama tumbuh sebesar 23,7 persen yoy, atau naik dari Rp 106,8 triliun pada Desember 2012 menjadi Rp 132,1 triliun pada Desember 2013," tulis perseroan.
Dari sisi pendanaan, BRI juga berhasil menumbuhkan dana pihak ketiga. Per akhir tahun 2013 total DPK BRI mencapai Rp 486,4 triliun atau tumbuh 11,5 persen year on year.
Saham PGN Anjlok, Dahlan Berdalih Notulen Rapat Bocor
Menteri BUMN Dahlan Iskan. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Kisruh penggabungan dua perusahaan gas raksasa Indonesia PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Pertamina Gas (Pertagas) milik Pertamina masih berlanjut. Kini gejolak penggabungan itu telah menyebabkan anjloknya saham PGN di bursa saham.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengakui ada perhitungan yang keliru. Dia mengungkapkan, itu disebabkan oleh bocornya hasil rapat Kementerian BUMN dengan komisaris dua BUMN tersebut ke media massa.
"Itu kan karena notulensinya bocor, padahal waktu belum final dan masih akan ada rapat lanjutan. Karena sudah ditulis oleh media, ya begitulah," tutur Dahlan di Gudang Bulog, Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Sebelumnya, dalam konferensi pers di kantornya, Dahlan memastikan proses penggabungan kedua perusahaan akan menguntungkan negara. Dia yakin penggabungan tersebut tidak akan membuat saham PGN di pasar saham anjlok.
Seperti diketahui, kisruh PGN dan Pertagas memang sedang dibahas penyelesaian oleh Kementerian BUMN. Apakah akan digabung ataukah ada format lain yang lebih tepat untuk menyudahi pertentangan pasokan gas untuk kedua perusahaan itu.
PGN yang selama ini sulit mendapatkan pasokan gas dari Pertamina sebagai industri hulu, mendesak agar perusahaan migas raksasa itu tidak saja memperhatikan anak perusahaannya, Pertagas.
Besok Merpati Laporkan Rencana Bisnisnya
Ilustrasi. (Foto: Okezone)JAKARTA - Menteri Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan pihaknya masih tetap berpegang pada keputusan terakhir terkait penanggulangan persoalan internal PT Merpati Nusantara Airline (Merpati).
Seperti diketahui, keputusan terakhir kementerian BUMN terkait persoalan Merpati menyebutkan, perusahaan penerbangan nasional itu harus segera menyusun perencanaan bisnisnya untuk segera ditindaklanjuti.
"Merpati masih keputusan yang lama. Skemanya sudah jelas dan ini baru kan. Sudah jelas semua tinggal pelaksanaannya sampai mana," tutur Dahlan ketika ditemui di Kantor Bulog, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (24/1/2014).
Dia mengungkapkan, laporan pelaksanaan keputusan tersebut oleh pihak Merpati akan dilaporkan besok, Kamis, 23 Januari 2014. Pelaporan tersebut, lanjutnya akan memaparkan sejauh mana langkah pihak Merpati menindaklanjuti keputusan tersebut.
"Hanya pelaksanaannya step-step sudah di mana besok pagi baru didengar sampai mana laporannya," pungkasnya.
Bulog Khawatirkan Murahnya Harga Gula Impor
Ilustrasi. (Foto: Okezone)JAKARTA - Lebih murahnya gula impor daripada harga gula lokal menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Badan Urusan Logistik (Bulog). Hal tersebut membuat Bulog menghitung kembali untuk menyediakan stok gula.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan pihaknya masih menimbang-nimbang penugasan dari pemerintah untuk menyediakan stok gula hingga ribuan ton di 2014.
"Kalau dihitung-hitung impor, karena harga impor selalu lebih murah. Apalagi sekarang harganya di bawah dalam negeri," kata Sutarto usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (22/01/2014).
"Mungkin sampai di dalam negeri, harga fluktuatif tetapi kira-kira Rp8.000 lebih sedikit. Lokal harapannya Rp8.900 per kg. Saya harus lihat lagi ya," lanjutnya.
Sutarto mengatakan, Bulog akan tetap memprioritaskan perolehan pasokan gula dari dalam negeri dan memperhatikan kepentingan petani tebu lokal. Hal yang sama, jelasnya, juga akan dilakukan saat menyediakan beras lokal.
"Cari untung itu nomor dua tetapi kita pertahankan itu. Untuk kepentingan stabilisasi harapan untung banyak bukan arahnya ke sana," ujarnya.
Dia mengutarakan pihaknya segera akan bertemu dengan asosiasi pabrik gula nasional dan petani gula. Ini, tambahnya, dilakukan untuk mengetahui berapa besar kemampuan pasokan gula lokal yang bisa diserap oleh Bulog.
"Semua pasti maunya di dalam negeri, tetapi saya sudah merencanakan untuk bertemu dengan pabrik-pabrik gula. Kedua dengan asosiasi petani (gula), jadi kita utamakan itulah. Saat ini belum bisa kita alokasikan berapa uang impor dan dari gula lokal," tandasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar